English| Books| A Linguist Wanna-be| Translator | Lecturer| Explorer| Social-Entrepreneur| Love Music and poems| Kids make me happy| God is everything
Background Illustrations provided by: http://edison.rutgers.edu/

Piala Dunia \^^/

Lagi nyapa via WA ama suami di Papua. Di sana beda 2 jam lebih cepet.

Gue: abang…
Suami: kok udah bangun jam segini?
Gue: sengaja, mw nonton final, wkwk. Tp yg laen blm bangun.
Suami: niat amat, jangan lupa QL yak
Gue: ya emang mw QL jg hhe
Suami: sip sip…
Gue: kamu dah berangkat? (ceritanya mw ke bandara buat pulang)
Suami: ambil flight 2 jam 9.30, nonton final dulu haha
Gue: (sama aja -,-) dukung apa?
Suami: netral 8)
Gue: aku Argentina, tapi feelingku Jerman yg menang wkwk
Suami: yah Jerman jago maen, Argentina nyerang dikit2 tp efektif. Kmu dukung Argentina karena ada yg ganteng ya? :>
Gue: apa? Messi? Wkwk. (Dalam hati, tahu aja). Padahal dulu ngefans ma Klose. Wkwk. Jumlah goalnya udah ngalahin Ronaldo nih :O
Suami: :l

Hai, Kecil….

Hari-hari menjadi berarti setelah kehadiran si kecil dalam rahimku. Setiap gerakannya dalam perutku menyadarkanku bahwa aku memiliki kehidupan lain yang harus kujaga. Sebuah amanah yang besar, yang dengannya kebahagiaan dan segala ujian menanti. Tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tetapi aku dan suamiku selalu berdoa untuk kebaikan lelaki kecilku….

Ia pasti akan melalui masa-masa seperti kami. Jatuh bangun demi bisa belajar berdiri, merengek-rengek minta ASI, mengucapkan kata-kata dengan vocal tract yang belum matang, menginjak masa remaja yang penuh dengan tantangan, dan tumbuh dewasa dengan segala kebijaksanaan. Dalam bayanganku, kelak ia akan menjadi orang besar, seorang penghafal al-Qur’an, juara 1 di sekolah, pekerja keras, dan seseorang yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap masalah umat.

Ia lelaki, lelaki kecilku. Yang kunanti-nanti kehadirannya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa senang mengalir di dalam darahku terkadang, tetapi rasa khawatir tentu juga tak bisa aku tepis. Kadang pertanyaan demi pertanyaan, seperti “Mampukah aku jadi seorang ibu?”, “Bagaimana mengasuh anak pertama itu?” terus bergelayut. Pernah sekelebat merasa tak siap, tapi setiap kali ayah si kecil membawaku ke dokter kandungan, melihat USG selalu menjadi momen yang dinanti. Bahagia yang tidak terkira. Apalagi, jika bentuk si janin sudah terlihat seperti bayi manusia. Oh begini yah rasanya jadi orangtua…

Ah, aku sungguh tak tahan menulis ini, Nak. Katanya ibu hamil tak boleh menangis sedih. Tapi izinkan aku mengeluarkan air mata bahagia sebentar saja. Terimakasih sudah menemani hari-hari bunda di Ramadhan yang penuh berkah ini. Sebisa mungkin bunda puasa biar kau ikut rajin juga. Terimakasih sudah menjadi the best booster yang membuat bunda bisa menyelesaikan studi S2 dengan predikat cum laude. Untukmu yang darahnya menyatu dengan kulitku, darahnya mengalir di darahku, jantungnya berdenyut menyatu dengan nyawaku, aku akan berkorban apapun untukmu.

Hai kecil, semoga kau jadi anak yang cerdas dan shaleh, Bunda dan ayah sayang sama Adek. 3 bulanan lagi adek lahir lo. Adek yang sehat yah, terus sehat dan sehat terus….. :’)

June 26, 2014

When I firstly met you, I never imagined that you’d be someone who said something unbelievable. The words that later would change my life, the words that would make every woman in this world happy, the words that seemed short but deep.

Two years ago I forgot your important day, ya, while you thoroughly prepared everything for my precious day, ever. I turned into 23 at that time, and got an email that’s pretty shocking. You convinced me that you can be the one and only. You, with your strengths and weaknesses. You, with your future plan and responsibility. You, with smile and tears and determination to chase your dreams. You, with your belief and hope.

I value my marriage with you, so incredibly thankful to God for sending you to me as a gift. Nothing says ‘home’ like the arm of yours. Happy b-day babe…

When the Marriage Proposal was Coming….

Sedang iseng membuka blog di wordpress karena sudah 4 bulan gak ngisi2. Sibuk nesis dan akhirnya kelar juga, hehe. Tetiba tergelitik dengan tulisan lama. Dulu saya amazed kenapa setelah saya menulis ini. 1 jam kemudian ada telepon dari seseorang yang akhirnya membersamai hidup saya. Saya selalu yakin bahwa ketika kita sungguh-sungguh menyiapkan dengan hati yang tulus, doa kita akan dikabulkan. Waktu itu, saya menulis tulisan ini ketika sedang berpikir tentang masa depan. Lucu juga.

Januari 2013

Saya terpaku. Memandang satu sisi dinding di kamar kosan saya. Dua karton berwarna merah darah dan merah jambu. Yang merah darah bertuliskan kata-kata penyemangat sejak saya memilih untuk kuliah kembali. Ayat-ayat Qur’an, hadits, perkataan ulama, hingga ungkapan-ungkapan bahasa Inggris. Sedangkan karton merah jambu berisikan empat cita-cita yang saya tulis pada tahun 2008, tetapi selama tiga tahun saya taruh di gudang karena cita-cita saya sempat berubah semasa kuliah S1. Isinya adalah: masuk surga, jadi dosen, penulis, dan pengusaha. Baru pada 2012 saya pasang lagi, butuh kelapangan hati untuk (pada akhirnya) meredam cita-cita bekerja di stasiun TV atau media cetak. Saya kembali pada cita-cita semula, menjadi akademisi, penulis, dan pengusaha. Hehe. Maka kertas karton itu saya cari, tertumpuk di antara kertas-kertas yang berdebu, lalu saya pasang lagi. Dan jalan menuju ke sana semakin Allah mudahkan.

Lalu saya beralih ke sisi dinding yang lain. Ada kertas bertuliskan career path sejak saya selesai sidang skripsi, hingga saat ini. Di samping kertas itu ada foto keluarga. Tujuh tahun yang lalu, dan yang terbaru, saat lebaran. Posisi itu membuat saya harus selalu bersemangat. Karena ada orang-orang terkasih yang harus saya bahagiakan. Di tengah-tengahnya, satu tulisan besar mengingatkan diri saya yang lalai ini, “Jaga Qiyamullail”, serta sederet daftar ibadah yaumiyah dan foto satu grup ‘lingkaran’ saya yang sudah terpecah belah, selalu membuat saya ingin menangis saja. “Kita sudah tak bersama-sama lagi seperti dulu. Masing-masing memilih jalan yang berbeda”.

Saya beralih ke dinding yang ketiga, daftar pekerjaan saya, mengajar ini dan itu, proyek ini dan itu, kegiatan begini dan begitu. Satu kehidupan baru yang belum pernah saya jalani. Orang-orang baru yang saya jumpai. Situasi yang kadang membuat saya harus lebih banyak bersabar karena dunia, ternyata bukan hanya milik saya. Sejak itulah saya tahu, bahwa menjadi realistis itu penting, hahahaha.

Tunggu, ada satu dinding lagi, di antara tiga sisi yang sudah terisi penuh dengan alur hidup. Masih kosong melompong. Serta merta dada saya bergemuruh, kepala saya agak berat, karena ada gambaran peristiwa ketika Allah hendak mengangkat gunung Thursina ke atas Bani Israil. Ada bayangan perjanjian antara Allah dan Rasul. Al-Qur’an menyebut peristiwa ini dengan frase “miitsaqan Ghaliizhaa”, atau perjanjian yang berat. Dan, yang lebih mengejutkannya lagi, frase ini dipakai juga dalam sebuah ayat yang pasti akan menampar-nampar diri saya, menggelagakkan semangat saya, sekaligus membuat saya bergemetar karena kehidupan yang benar-benar baru. Kehidupan yang melahirkan tanggung jawab yang sesungguhnya. Karena dalam pada itu, akan ada Allah, di antara saya dan seseorang yang kelak akan berjanji, “kupanggulkan bukit Thursina ke pundakmu seumur hidup”. Satu dinding kosong ini membuat saya begitu takut. Saya menepuk kening, ya Tuhan, saya belum menyiapkan apa-apa untuk itu (*)

4 Months

Alhamdulillah, ahad besok kehamilan saya tepat 4 bulan. Itu artinya saatnya janin ditiupkan ruh. Ibu saya bilang saat 4 bulanan juga nanti bayinya sudah bisa bergerak. Rasanya pengen cepet2 dengar dia nendang-nendang. Sementara dokter bilang, 4 bulan sudah bisa diketahui kelaminnya. Tapi jangan berharap berlebihan dulu karena tergantung posisi si bayi.

Di masa 4 bulan juga orang2 bilang mual2 lama2 berhenti. Heems, memang waktu 2 jalan 3 hampir tiap hari saya muntah2. Kalau ga sering ngemil lapernya cepet banget. Kalau gak dimasukkin makanan, rasanya mual. Pas dimasukkin makanan eh eneg and keluar lagi. Sy sampe milih2 banget kalau mau makn. Dan bagi saya, buah2an adalah makanan paling enak di dunia. Hehe. Di fase inilah saya pernah nangis2 and minta pulang kampung. Kalau saya udah bilang suami pengen ketemu ummi, itu artinya saya cukup depressed haha.

Alhamdulillah ketika 3 jalan 4 saya jarang keluar lagi makanannya. Dan udah ga eneg lg. Asal ga makan terlalu banyak lemak dan asem2 karena saya punya maag. Kalau mau asinan pokoknya harus masuk karbohidrat dulu. Kalau nggak…beuh…

Saya iri jg sama temen yg hamil kebo a.k.a ga mual2 sama sekali. Kondisi orang beda2 ya. Haha. Tapi saya bersyukur karena dengan fase2 ini saya jadi ingat nikmat Tuhan dan rasa sayang orangtua. Rencananya dari keduabelah pihak mw adakan 4 bulanan pengajian. Jd ga 7 bulanan hehe. Sebenarnya di Islam cukup doa aja si, tp namanya kultur ya itung2 banyak yang doain. Hehe.

Allah ya Rabb. Semoga Engkau jadikan kami orangtua teladan. Engkau karuniakan pada kami anak2 yang shalih dan shalihah, yang cerdas, dan bermanfaat untuk umat. Amin

Something Funny About Marriage

Kadang saya berpikir bahwa memiliki suami yang awalnya adalah teman genk ada enaknya ada konyolnya. Enaknya karena kalau ngobrol bisa nyambung senyambung-nyambungnya. Apalagi irisan teman kami banyak. Pengalaman kami di masa lalu yang kocak-kocak juga banyak.

Tapi tentu ada hal-hal yang buat srada ketawa juga. Pertama, kadang saya harus ganti mode istri, alih-alih temen yang biasanya ngobrol pake gue elu. Dalam beberapa kesempatan kami suka praktikkan itu lagi dan geli sendiri…hha

Sebelum kami menikah, kami sebetulnya sudah saling kenal 3.5 tahun lamanya. Kami pikir kami sudah cukup mengenal masing-masing karakter. Apalagi teman genk ya yang ga sangka bakal kawin, mau jaim juga susah kalee. Tapi ternyata sewaktu menikah….eng..ing…eng….jreng jreng

Suami saya bilang ternyata saya orangnya lucu, kadang geje, skip, dan perfeksionis dalam kebersihan *azek. (Krena namanya cowok standar bersihnya beda kali ya, haha). Sebenarnya dia tahu waktu temenan saya kadang suka skip dan ngelawak, tapi ternyata kalau di rumah lebih ngelawak dan skip lagi katanya. Hahaha.

Lalu, apa yang saya dapati dari suami saya? Sebenarnya dia ga geje2 amat anaknya. Haha. Cuman saya baru tahu kalau dia orang yang ke..ke..ke..ras hati.

Ampun. Kalau udah bimbing saya untuk hal2 serius semisal akademik dan karir, atau apply2 beasiswa dan something related to them, mau nangis rasanya hahaha. (Karena sejujurnya kami pernah berantem gara2 he’s too perfectionist). Form recek dikit aja hrus distrika, hahaha. I have a very detail, motivated, and serious man! Waktu diskusi tesis dan pemilu, gaya dia berpendapat udah kayak orasi juga. Haha. Akhirnya gw ngerti kenapa….dia jadi suami saya haha. Melengkapi kepribadian saya yang agak nyante ini! :p

Tapi…di balik kekerasan hatinya. Cashing tu anak lembut (klau ga boleh saya bilang r*m*ntis). Kalau punya menti2 atau temen, sampe kapanpun akan dia iket dan inget. Bisa banget bangun bounding dengan pendekatan personal. Makanya temen dia yang awet dari dulu lebih banyak dari saya kayaknya —’. Mama mertua bilang, dia itu Palembang banget. Cashingnya lembut, dalemnya keukeuh hha.

Kalau saya. Baru kenal keliatan lembut. Aslinya……. :p

Namanya pernikahan itu harus banyak komprominya. Kami sadar masing2 kami punya banyak kekurangan. Dan kami pun bersyukur bahwa kami bisa melengkapinya. Kesel2 dikit wajar lah ya, hehe. Tapi seperti sela-sela jari kanan, tak akan terisi tanpa digenggam oleh jari kiri. Begitulah pernikahan. Saling melengkapi, saling memahami.

Grab the Products!

Halo! Selamat siang!
Yuk lengkapi koleksi hijab cantikmu dengan Nalacity..

Memperingati Hari Kartini tanggal 21 April 2014, Nalacity memberikan “Special price” untuk setiap pembelian pukul 12.00-19.00 setiap hari!

1-3 pcs: discount 10%
4-7 pcs: discount 15%
8-10 pcs: discount 20%

Khusus pembelian di hari Jum’at„ kamu bisa ikutan #FridaySale dengan order 2 pcs gratis 1 produk Nalacity!

Order via sms ke 085714496568 (Lulu)

Untuk kamu yg ingin jd reseller & dapetin banyak keuntungan„ bisa langsung daftar ke nalacity.shop@gmail.com.

Yuk segera miliki hijab cantik Nalacity! Cek produk2nya di https://m.facebook.com/161939157221087/albums/634399399975058/?_rdr

Dengan membeli produk Nalacity, kamu sudah membantu pemberdayaan ibu-ibu keluarga Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Sitanala, Tangerang.

Beli 1 Jilbab, Ubah 1 Kehidupan

@Nalacity
-empowering, inspiring-

Experiencing Pregnancy

Already 9 weeks-pregnant, and I decided to stay with my parents in law because my husband told me to do so. He thought that we (w/ my baby) can get enough nutrition while he’s in Papua. Yeah, they really take care of us. Sometimes I feel so happy experiencing this, sometimes so painful with this terrible nausea (and the thesis), sometimes feeling so empty and unstable. I just think this is a very different world. Long time no teach, long time no see my house, long time no meeting with my parents, long time no husband, no gathering with friends….

But…grateful for this pregnancy, for this patience, for everyone who cares…