English| Books| A Linguist Wanna-be| Translator | Lecturer| Explorer| Social-Entrepreneur| Love Music and poems| Kids make me happy| God is everything
Background Illustrations provided by: http://edison.rutgers.edu/

Sembilan Bulan

Dulu saya tak pernah membayangkan bagaimana rasanya mengandung. Ketika awal menikah dulu, yang ada dalam diri saya adalah rasa was-was dan takut, karena sejujurnya, dulu saya tak ingin cepat-cepat memiliki anak. Sungguh kufur diri ini, yang sempat berpikir bahwa hamil cepat-cepat hanya akan menambah beban studi S2 saya, hamil cepat-cepat hanya akan membuat momen-momen indah dengan sang suami berkurang, hamil cepat-cepat hanya akan membatasi aktivitas saya di luar rumah, hamil cepat-cepat hanya akan membuat saya sedih karena saya sadar, waktu itu saya mungkin belum cukup beradaptasi dengan rute kerja suami saya yang bolak-balik Jakarta-Papua.

Alhasil, Allah tahu betapa saya belum siap benar, sehingga baru pada bulan keenam Dia memberi saya amanah ini, tentu saja setelah saya menelan beragam pertanyaan khas orang Indonesia, kalau tidak boleh saya sebut ‘tekanan sosial’, dan hasil tes kesehatan saya dan suami yang sempat membuat shock, hingga akhirnya saya bersujud dan berusaha mengenyahkan segala buruk sangka. Saya menerima, dengan sepenuh jiwa. Dan amanah itu justru datang di waktu yang terbaik.

Dengan doa yang tak henti-hentinya, Allah memberikan saya anugerah yang luar biasa, setelah saya membuka hati, merasai betapa bersyukurnya memiliki keturunan yang bisa menjadi penentram jiwa. Saya akhirnya hamil, setelah menyadari betapa fase ini adalah fase menakjubkan yang harus dirasai oleh setiap perempuan. Sebuah fase yang pasti akan mengubah perspektif saya terhadap hubungan orangtua dan anak. Sebuah fase yang menggetarkan, yang mengubah rasa sakit menjadi demikian manisnya.

Sembilan bulan terlewati sudah. Ada banyak perubahan fisik yang membuat kesabaran saya diuji sedemikian rupa. Saat empat bulan pertama, saya jarang sekali bisa makan dengan enak. Selalu memilih-milih makanan karena kalau tidak cocok, saya akan memuntahkan makanannya lagi. Saya memang tidak mengenal ngidam, tapi saya tahu, suami saya pasti kerepotan karena saya susah makan. Minta A, akhirnya dibelikan, tapi nanti sampai rumah tidak dimakan. Minta B, akhirnya dibelikan, tapi nanti bilang, “perutnya gak enak kalau dimakan”. Kalimat favorit suami saya di fase ini adalah, “jadi kamu maunya apa?”. Terbayang wajah dia yang super menahan sabar :) karena perubahan hormon kehamilan membuat saya sering sekali kesal dengan suami saya, persis seperti PMS :p. Pernah waktu itu dia bertindak lucu, bukannya mengambilkan air hangat waktu saya muntah, dia malah membuat video tanpa saya ketahui. Katanya, biar dedek tahu perjuangan bundanya dulu :O

Di bulan kelima, saya sudah bisa makan enak. Alhamdulillah, ini terjadi justru ketika Ramadhan datang. Allah tahu, saya tidak boleh sembarangan makan dan perlu asupan nutrisi lebih, maka ia menahan saya dengan puasa semampunya. Di bulan ini juga saya sedang hectic diburu deadline tesis. Dulu saya pernah berpikir saya tidak akan mampu kalau harus mengerjakan penelitian saat saya sedang mengandung, tapi alhamdulillah, semuanya terlewati dengan izin Allah. Adanya janin dalam perut saya justru menjadi motivasi terbaik agar saya cepat menyelesaikan studi.

Menginjak bulan keenam, masalah lain pun timbul. Beberapa bagian tubuh saya gatal-gatal karena tubuh saya semakin lebar, jadilah timbul stretch mark yang saya tidak tahu ini bekasnya akan hilang kapan. Kandung kemih saya juga sakit kalau buang air kecil sambil jongkok. Untung saja WC di rumah WC duduk, jadi tidak begitu membebani, walaupun setiap pergi saya kerepotan karena sering sekali buang air kecil. Menginjak bulan ke tujuh, kaki saya sering kram dan kesemutan, karena menahan berat bayi yang semakin besar. Seringkali saya terbangun tengah malam dan berteriak-teriak sakit. Dan lagi-lagi, saya terbayang wajah suami saya yang dulu bingung harus berbuat apa, hehe.

Begitu juga saat hamil delapan bulan, saya merasa betapa sulitnya berjalan panjang, mudah sekali ngos-ngosan. Ini baru saya sadari ketika saya ke Singapura menemani suami training. Tahun lalu kami backpack tidak masalah jalan panjang-panjang, tapi bulan lalu, saat berjalan menyusuri lorong MRT saja, tubuh rasanya pegal dan lelah sekali. Lagi dan lagi, saya terbayang betapa super sabarnya suami saya yang menuruti kemana maunya saya, padahal fisik sudah tidak memungkinkan lagi ;p.

Lalu bulan ke sembilan itu pun datang. Mungkin ini yang disebut Al-Quran wahnan ‘ala wahnin, kelemahan yang bertambah-tambah. Posisi tidur sungguh serba salah karena bayi saya semakin besar, berjalan pun sudah pincang-pincang karena pinggang rasanya sakit sekali. Naik tangga susah, jalan juga pelan-pelan, masak dan beres-beres rumah pun gampang sekali capeknya. Saya jadi ingat ibu saya kalau sudah begini. Akhirnya, saya diminta hijrah ke rumah mertua saja, dan suami saya…tak usah ditanya :p dia terbang ke Papua dan baru tiba satu minggu sebelum HPL (hari perkiraan lahir).

Ingin sekali rasanya memiliki suami yang siaga 24 jam, hehe, tapi hidup memang pilihan, dan saya sudah sangat bersyukur memiliki pasangan hidup yang sangat perhatian dan luar biasa, walaupun jarak memisahkan kami berdua. Kami selalu mengajak bayi kami bicara, agar lahir kalau ayahnya sudah tiba di rumah saja. InsyaAllah HPL saya 3 November, yang katanya bisa maju bisa mundur satu sampai dua minggu dari perkiraan dokter. Ya, tinggal menghitung hari. saja Semoga Allah mudahkan persalinan saya karena saya yakin Dia tahu waktu yang terbaik (*)

Beli 1 Jilbab, Ubah 1 Kehidupan

International Hijab Solidarity Day!

Kamis, 4 September 2014

Hijab adalah identitas muslimah.. tidak sekedar penutup aurat, hijab juga menjadi bagian dari busana muslimah sehari-hari yang kian berkembang dan semakin trendi..

Dalam rangka International Hijab Solidarity Day 2014, Nalacity mengajak muslimah Indonesia untuk menyemarakkannya dengan mengajak saudari kita yang ingin mulai berhijab dan juga berbagi dengan sesama muslimah..

BUY 1, GET 1

Dengan membeli 1 hijab Nalacity, kamu telah memberikan 1 hijab lainnya untuk saudari-saudari kita yang ingin berhijab dan membutuhkan hijab..

*kamu juga bisa memilih kepada siapa hijab yang ingin kamu berikan

Yuk segera miliki hijab cantik Nalacity! Cek produk2nya dihttps://m.facebook.com/161939157221087/albums/634399399975058/?_rdr

Dengan membeli produk Nalacity, kamu sudah membantu pemberdayaan ibu-ibu keluarga Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Sitanala, Tangerang.

"Beli 1 Jilbab, Ubah 1 Kehidupan"

@Nalacity
-Empowering, Inspiring-

Penguatan Inovasi Teknologi: Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Oleh Arriyadhul Qolbi 

“Never before in history has innovation offered promise of so much to so many in so short a time” (Bill Gates)

Pernahkah Anda berpikir apa satu faktor penting yang dimiliki oleh negara-negara berpenghasilan tinggi dengan ekonomi mapan di dunia? Robert Solow, seorang nobelis ekonomi, dan Paul Romer, seorang pakar ekonomi internasional, menyatakan bahwa inovasi teknologi memegang peranan penting dalam meningkatkan produktivitas yang akan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Apa yang dinyatakan oleh Solow dan Romer bukanlah hasil studi belaka. Inggris, misalnya, melalui revolusi industrinya, dapat mengubah ekonomi yang bergantung pada pertanian menjadi ekonomi berbasis industri, sehingga berdampak pada kenaikan produksi, modal, tenaga kerja, efisiensi dan pendapatan ekonomi negerinya.

Hasil studi Solow dan Romer juga terbukti ketika kita mencermati tabel The Innovation Global Index 2013. Tabel tersebut merupakan hasil penelitian yang mengukur tingkat inovasi suatu negara garapan Cornell University, INSEAD, dan The World Intellectual Property Organization. Berdasarkan studi tersebut dapat dilihat bahwa negara-negara yang memiliki pendapatan tinggi adalah negara-negara berskor inovasi tinggi.

Pertanyaannya kemudian adalah “Bagaimana tingkat inovasi teknologi Indonesia? Apakah Indonesia memiliki inovasi teknologi yang sudah matang?” Jika kita lihat The Innovation Global Index 2013, Indonesia menempati peringkat 85 dari 142 negara, jauh di bawah Singapura (peringkat 8), Malaysia (32), Thailand (57) dan Vietnam yang berada di posisi 76. Bahkan peringkat Indonesia turun dari 72 pada 2009 menjadi 85 pada 2014. Ironis!

Tantangan Inovasi di Indonesia

Kemenristek menyatakan bahwa yang menjadi masalah utama bagi inovasi di Indonesia adalah sedikitnya jumlah penelitian yang dikembangkan menjadi produk komersial. Padahal, The World Bank menyatakan bahwa teknologi maupun produk penelitian yang tidak didiseminasi atau disebar menjadi sebuah produk komersial bukanlah suatu inovasi. Lalu, bagaimana kita menjawab permasalahan ini?

Untuk menciptakan sebuah iklim inovasi yang mantap dan mendukung terjadinya diseminasi penelitian menjadi produk komersial, tentu saja dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Setidaknya, ada tiga pihak yang berperan penting dalam melaksanakan proyek ini, yaitu perguruan tinggi atau lembaga penelitian, sektor privat, serta pemerintah. Kerjasama terintegrasi inilah yang belum dilakukan secara optimal di Indonesia.

Dalam praktiknya, pihak perguruan tinggi atau lembaga penelitian seyogyanya melakukan penelitiannya dengan berorientasi kepada kebutuhan pasar agar hasil penelitian tidak terbengkalai menjadi suhuf-suhuf dan rongsokan tua di perpustakaan ataupun di laboratorium. Belajar dari Swedia sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia (peringkat 2 di index), penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi selalu dikolaborasikan dengan permintaan di dunia industri. Hal ini dilakukan dengan cara melibatkan para profesional atau pelaku industri di dalam laboratorium penelitian mereka. Orang-orang ini memiliki peran yang sama pentingnya dengan para peneliti di dalam laboratorium. Mereka menguji apakah penelitian yang dilakukan memenuhi kemauan pasar dan memungkinkan untuk diproduksi secara massal. Dengan cara ini, pihak universitas juga dapat menjamin keberlangsungan pendanaan untuk penelitian mereka.

Kemudian, industri sebagai pilar kedua memiliki peran yang penting dalam menggunakan hasil penelitian dari universitas. Microsoft, misalnya, setiap tahunnya mengadakan kompetisi inovasi teknologi untuk para mahasiswa dengan memanfaatkan produk perusahaan. Hasilnya sangat memuaskan! 1.7 juta mahasiswa di seluruh dunia memproduksi ratusan ribu teknologi yang memberikan manfaat untuk dunia.

Terakhir, pemerintah sebagai pilar ketiga perlu memainkan peran yang menstimulasi iklim inovasi. Secara teknis, pihak pemerintah perlu membentuk lembaga intermediasi yang mengatur hubungan antara perguruan tinggi atau lembaga penelitian dengan dunia industri. Hubungan ini dapat menciptakan kesesuaian dan regulasi yang jelas yang menjembatani adaptasi dan diseminasi hasil-hasil penelitian oleh dunia industri. Kedua, memberikan insentif yang sesuai bagi para peneliti untuk mengembangkan penelitiannya menjadi sebuah produk inovasi. Ketiga, membuat political will yang didukung oleh semua lembaga dan instansi dari pemerintah pusat hingga daerah. Ketiga peran inilah yang belum dimainkan oleh pemerintahan SBY, sehingga langkah-langkah ini menjadi PR besar bagi kabinet selanjutnya.

Dari paparan di atas, jelas bahwa inovasi teknologi memainkan peran yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa. Baik pihak universitas, sektor privat, maupun pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim yang inovatif. Kerjasama ini tentu tidak mudah, tetapi dengan kesadaran dan upaya dialog yang intensif, kita berharap tantangan inovasi di Indonesia dapat segera terjawab.

Daftar Acuan

Cornell University. (2013). The Global Innovation Index 2013: The Local Dynamics of Innovation. Geneva: World Intellectual Property Organization; Confederation of Indian Industry

Craft (1987). “The Industrial Revolution:  Economic Growth in Britain, 1700-1860” http://www.ehs.org.uk/dotAsset/15457c19-e7bd-4045-a056-30a3efac2d47.pdf, hal 1-4

Holm, D. S. (2011). “Innovation Lecture”.Seminar. RITECH Expo, 10 Agustus

INSEAD. (2010). Global Innovation Index 2009-10. Confederation of Indian Industry.

The World Bank. (2010). Innovation Policy: a guide for Developing Countries. Washington DC: The World Bank.

Wong. (2005). “Entrepreneurship, Innovation and Economic Growth: Evidence from GEM data” dalam Small Business Economics, hal 335-350.

*) Dimuat dalam buku kumpulan esai Young Leaders for Indonesia (YLI)

Perkara Jodoh #2

Beberapa bulan lalu saya pernah post tulisan tentang perkara jodoh juga. Dalam tulisan itu, saya berkata bahwa tekanan sosial itu memang harus disikapi secara dewasa. Nah, ada satu hal lagi nih yang ingin saya share. Pengalaman orang tentu berbeda, tapi setidaknya tulisan ini bisa memberi sedikit pelajaran buat gadis dan bujang yang mikir bahwa pernikahan itu memang selalu indah. Apakah demikian?

Bermula dari pengamatan pada orangtua saya ketika saya masih gadis, saya seringkali mendapati keduanya bertengkar kecil di depan anak-anak. Kadang sehari bisa jadi banyak kasus. Saya dan adik-adik saya berpikir, rasanya nyaris tidak pernah melihat ayah saya berlaku romantis pada ibu saya di depan anak-anak. Perasaan kok ya beda terus.

“Udah tuir ah, malu keles” Yah mungkin begitulah alasannya. Tapi suatu hari, saya pernah meminjam hp ibu saya dan ga sengaja membuka pesan masuk. Isinya deretan puisi dari ayah saya. Aiiih…sesuatu. Pernah juga suatu hari ayah saya diam-diam memuji ibu saya di depan anak-anak tanpa ada ibu saya, “Contoh tuh ummi, ama saudara-saudaranya tuh bener-bener care. Orangnya ngasih melulu. Ini nurun ke anak mana sih?” Padahal, kalau di depan ibu saya, ayah saya suka berkata, “Boros amat”, yang menurut ibu saya masih dalam tataran proporsional. Gu to the brak!

Dan, saat saya pun berumah tangga, apa yang sering saya lihat pada orangtua saya pun baru dimengerti setelah saya menjalaninya. Ternyata apa yang saya lihat baru secuil dari tangga-tangga yang dibangun oleh pasangan suami istri di dalam rumah. Saya bisa melihat polanya setelah setahun membersamai suami saya. Pada kenyataannya, marriage is also about compromizing! Yeah!

Dua bulan pertama memang semuanya terasa indah, yah masih masa-masa bulan madu lah. Dan saya dan suami saya mungkin masih srada-srada jaim. Apalagi kami tidak mengawali masa pernikahan dengan pacaran, hehe. Tapi lumayan juga, berteman cukup lama membuat saya dan suami saya sudah cukup tahu jelek-jelek dan bagus-bagusnya dimana ajah. Jiaaah. Tapi menjelang bulan keempat, ternyata apa yang kami lihat dulu atau malah kami asumsikan ada saja yang salah. Tapi pada fase ini, tentu gerutuan-gerutuan masih disimpan saja di dalam hati. Kok begini yah, kok begitu yah. Indah dan bingung memang ada masanya, haha.

Setelah setahun berjalan, saya pun menyadari bahwa tidak selamanya hidup berjalan seperti kisah-kisah Cinderella. Jangan pernah berharap bahwa masing-masing kita, lelaki dan perempuan, akan mendapatkan 100% fokus dan perhatian ketika berumah tangga, 100% terpenuhinya keinginan, 100% puji-pujian, atau 100% terlaksananya rencana. Yah, perbedaan memang kadang menyulut konflik-konflik kecil, mulai dari kapan puasa dimulai, uang dipake buat apaan, kenapa kursi harus diletakkan di posisi depan, kenapa ga beli X dulu baru Y, mau punya anak berapa, tabungan sekian persen ga boleh diambil, harus banget yah milih A daripada B, kenapa gak nanya orang ajah daripada ngandelin google maps, kenapa pegang gadget melulu, Apa sih yang lucu???, kenapa sih ga bantuin daritadi, kenapa kelamaan dandan, boleh gak istri kerja atau pulang jam sekian-sekian, kalau mertua dateng enaknya dikasih apa ya. Kalau beda gitu, bisa sebel melulu bawaannya, haha.

Hal yang paling sering buat cekcok itu biasanya manajemen keuangan dan kalau kami lagi nyasar-nyasar di jalan walaupun suami udah berusaha ngandelin gadgetnya #jreng. Setelah kami jalani, tampaknya pelajaran financial planning, sex education, dan interaksi dengan keluarga besar dan tetangga di seminar-seminar pernikahan jarang disinggung atau kurang dieksplor ya, padahal itu amat sangat penting lo Guys. Belajar dari pengalaman, sering-seringlah bertanya pada orangtua tentang apa saja yang harus diantisipasi. Kalau malu sama mereka, yah tanya saja kawan yang sudah berpengalaman.

Misalnya, dalam soal keuangan. Harus dari awal disepakati ATM suami dipegang istri atau bagaimana, belanja bulanan dijatah berapa, biaya tak terduga itu juga dijatah berapa, tabungan mau dideposito, atau diinvestasi dalam bentuk apa, dipakai buat apa saja, gaji istri gak boleh diganggu atau gimana, kalau ada bonus kantor mau dikemanain yah enaknya, bikin rekening berapa banyak dan buat apa ajah, ada asuransi gak yah, dan sebagainya dan sebagainya. Karena usut punya usut, saya sering mendengar bahwa perceraian timbul karena urusan ekonomi. Nauzubillah.

Begitu juga pengetahuan kita tentang sex. Banyak pasangan yang ragu-ragu memeriksakan diri ke dokter saat lama tidak dikaruniai anak. Kadang kita mikir ada masalah di ceweknya doank, padahal bisa jadi ada masalah juga sama cowoknya. Bisa saja soal infertilitas, bentuk atau pergerakan sperma yang tidak sesuai, kista dalam rahim, dan lain sebagainya. Konsultasikan ke Ginekolog (dokter kandungan), atau androlog (khusus cowok), dan sering-seringlah memanfaatkan internet atau buku-buku terkait agar dapat pemahaman yang tidak setengah-setengah. Maklum, di Indonesia suka banyak mitos orangtua yang aneh-aneh, hehe. Masalah punya anak atau nggak juga bisa jadi buat cekcok suami istri, jadi jangan ragu belajar dari yang sudah berpengalaman.

Yah, banyak hal yang perlu dikompromikan. Saya pernah bertanya pada murobbiah saya berapa lama baru bisa menerima paket full suaminya. Dia bilang 8 tahun. Et dah lama bat. Bahkan mertua saya pun bilangnya 5 tahun baru bisa nerima senerima-nerimanya. Orangtua saya juga butuh bertahun-tahun untuk bisa menerima full paket pasangannya, hehe. Pesan dari mereka, jangan pernah bawa tidur masalah, selesaikanlah sebelum matahari menyembul kembali dari peraduan. Apalagi saya menemukan pola bahwa perempuan itu lebih emosional daripada lelaki, dan lelaki lebih gak mau terbuka sama perempuan kecuali penting dan harus tahu. Perempuan lebih senang belanja (yang menurut mereka penting), sementara lelaki lebih demen nabung dan kebutuhan harus disesuaikan dengan prioritas. Default. Hehe. Kalau gak bisa menyikapi perbedaan dengan iman, setan itu gampang banget membisikkan keburukan-keburukan yang bisa buat pasutri cekcok melulu. Nauzubillah.

However, despite berpedaan yang menyulut konflik-konflik kecil, tak bisa dimungkiri bahwa ada saja yang membuat kami ketawa karena ternyata kami sekufu #eaa. Buat suami saya, mudik ke Serang bukan barang baru, karena hampir tiap lebaran dia dan keluarga silaturahim ke Serang, secara ada sepupu ayahnya yang tinggal di Serang, dan ternyata beliau menikah dengan saudara saya juga. Menjelang pernikahan dan setelah kami menikah pun, ternyata saya tahu bahwa ada 3 saudara saya yang menikah dengan anggota keluarga besar suami saya. Yaaah, jadi muter di situ-situ ajah yak. Nyari jodoh jauh-jauh kok dapetnya deket amat, haha. Alhasil tidak sulit bagi saya dan keluarga saya untuk menyesuaikan diri.

Dari karakter, dari kekoplakan-kekoplakan, dari irisan teman, dari visi-misi, selalu bisa kami temukan kesamaan. Jadi Guys, kalau lagi sebel, ingat aja baik-baik dan sama-samanya dimana, plus selesaikan juga dengan kepala dingin. Kalau ga bisa juga, harus ada mediator yang dipercaya agar semua senantiasa berjalan harmonis. Rumah tangga itu memang complicated, tapi kedewasaanlah yang membuatnya jadi sederhana. Saya dan suami pun masih terus belajar untuk menjaga keharmonisan ini, apalagi 3 bulan lagi si baby lahir. Wow..wow…ada kejutan apalagi yah nanti? Kita tunggu saja.

Wallahu’alam.

 

Piala Dunia \^^/

Lagi nyapa via WA ama suami di Papua. Di sana beda 2 jam lebih cepet.

Gue: abang…
Suami: kok udah bangun jam segini?
Gue: sengaja, mw nonton final, wkwk. Tp yg laen blm bangun.
Suami: niat amat, jangan lupa QL yak
Gue: ya emang mw QL jg hhe
Suami: sip sip…
Gue: kamu dah berangkat? (ceritanya mw ke bandara buat pulang)
Suami: ambil flight 2 jam 9.30, nonton final dulu haha
Gue: (sama aja -,-) dukung apa?
Suami: netral 8)
Gue: aku Argentina, tapi feelingku Jerman yg menang wkwk
Suami: yah Jerman jago maen, Argentina nyerang dikit2 tp efektif. Kmu dukung Argentina karena ada yg ganteng ya? :>
Gue: apa? Messi? Wkwk. (Dalam hati, tahu aja). Padahal dulu ngefans ma Klose. Wkwk. Jumlah goalnya udah ngalahin Ronaldo nih :O
Suami: :l

Hai, Kecil….

Hari-hari menjadi berarti setelah kehadiran si kecil dalam rahimku. Setiap gerakannya dalam perutku menyadarkanku bahwa aku memiliki kehidupan lain yang harus kujaga. Sebuah amanah yang besar, yang dengannya kebahagiaan dan segala ujian menanti. Tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tetapi aku dan suamiku selalu berdoa untuk kebaikan lelaki kecilku….

Ia pasti akan melalui masa-masa seperti kami. Jatuh bangun demi bisa belajar berdiri, merengek-rengek minta ASI, mengucapkan kata-kata dengan vocal tract yang belum matang, menginjak masa remaja yang penuh dengan tantangan, dan tumbuh dewasa dengan segala kebijaksanaan. Dalam bayanganku, kelak ia akan menjadi orang besar, seorang penghafal al-Qur’an, juara 1 di sekolah, pekerja keras, dan seseorang yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap masalah umat.

Ia lelaki, lelaki kecilku. Yang kunanti-nanti kehadirannya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa senang mengalir di dalam darahku terkadang, tetapi rasa khawatir tentu juga tak bisa aku tepis. Kadang pertanyaan demi pertanyaan, seperti “Mampukah aku jadi seorang ibu?”, “Bagaimana mengasuh anak pertama itu?” terus bergelayut. Pernah sekelebat merasa tak siap, tapi setiap kali ayah si kecil membawaku ke dokter kandungan, melihat USG selalu menjadi momen yang dinanti. Bahagia yang tidak terkira. Apalagi, jika bentuk si janin sudah terlihat seperti bayi manusia. Oh begini yah rasanya jadi orangtua…

Ah, aku sungguh tak tahan menulis ini, Nak. Katanya ibu hamil tak boleh menangis sedih. Tapi izinkan aku mengeluarkan air mata bahagia sebentar saja. Terimakasih sudah menemani hari-hari bunda di Ramadhan yang penuh berkah ini. Sebisa mungkin bunda puasa biar kau ikut rajin juga. Terimakasih sudah menjadi the best booster yang membuat bunda bisa menyelesaikan studi S2 dengan predikat cum laude. Untukmu yang darahnya menyatu dengan kulitku, darahnya mengalir di darahku, jantungnya berdenyut menyatu dengan nyawaku, aku akan berkorban apapun untukmu.

Hai kecil, semoga kau jadi anak yang cerdas dan shaleh, Bunda dan ayah sayang sama Adek. 3 bulanan lagi adek lahir lo. Adek yang sehat yah, terus sehat dan sehat terus….. :’)

June 26, 2014

When I firstly met you, I never imagined that you’d be someone who said something unbelievable. The words that later would change my life, the words that would make every woman in this world happy, the words that seemed short but deep.

Two years ago I forgot your important day, ya, while you thoroughly prepared everything for my precious day, ever. I turned into 23 at that time, and got an email that’s pretty shocking. You convinced me that you can be the one and only. You, with your strengths and weaknesses. You, with your future plan and responsibility. You, with smile and tears and determination to chase your dreams. You, with your belief and hope.

I value my marriage with you, so incredibly thankful to God for sending you to me as a gift. Nothing says ‘home’ like the arm of yours. Happy b-day babe…