English| Books| A Linguist Wanna-be| Translator | Lecturer| Explorer| Social-Entrepreneur| Love Music and poems| Kids make me happy| God is everything
Background Illustrations provided by: http://edison.rutgers.edu/

Beli 1 Jilbab, Ubah 1 Kehidupan

International Hijab Solidarity Day!

Kamis, 4 September 2014

Hijab adalah identitas muslimah.. tidak sekedar penutup aurat, hijab juga menjadi bagian dari busana muslimah sehari-hari yang kian berkembang dan semakin trendi..

Dalam rangka International Hijab Solidarity Day 2014, Nalacity mengajak muslimah Indonesia untuk menyemarakkannya dengan mengajak saudari kita yang ingin mulai berhijab dan juga berbagi dengan sesama muslimah..

BUY 1, GET 1

Dengan membeli 1 hijab Nalacity, kamu telah memberikan 1 hijab lainnya untuk saudari-saudari kita yang ingin berhijab dan membutuhkan hijab..

*kamu juga bisa memilih kepada siapa hijab yang ingin kamu berikan

Yuk segera miliki hijab cantik Nalacity! Cek produk2nya dihttps://m.facebook.com/161939157221087/albums/634399399975058/?_rdr

Dengan membeli produk Nalacity, kamu sudah membantu pemberdayaan ibu-ibu keluarga Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Sitanala, Tangerang.

"Beli 1 Jilbab, Ubah 1 Kehidupan"

@Nalacity
-Empowering, Inspiring-

Penguatan Inovasi Teknologi: Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Oleh Arriyadhul Qolbi 

“Never before in history has innovation offered promise of so much to so many in so short a time” (Bill Gates)

Pernahkah Anda berpikir apa satu faktor penting yang dimiliki oleh negara-negara berpenghasilan tinggi dengan ekonomi mapan di dunia? Robert Solow, seorang nobelis ekonomi, dan Paul Romer, seorang pakar ekonomi internasional, menyatakan bahwa inovasi teknologi memegang peranan penting dalam meningkatkan produktivitas yang akan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Apa yang dinyatakan oleh Solow dan Romer bukanlah hasil studi belaka. Inggris, misalnya, melalui revolusi industrinya, dapat mengubah ekonomi yang bergantung pada pertanian menjadi ekonomi berbasis industri, sehingga berdampak pada kenaikan produksi, modal, tenaga kerja, efisiensi dan pendapatan ekonomi negerinya.

Hasil studi Solow dan Romer juga terbukti ketika kita mencermati tabel The Innovation Global Index 2013. Tabel tersebut merupakan hasil penelitian yang mengukur tingkat inovasi suatu negara garapan Cornell University, INSEAD, dan The World Intellectual Property Organization. Berdasarkan studi tersebut dapat dilihat bahwa negara-negara yang memiliki pendapatan tinggi adalah negara-negara berskor inovasi tinggi.

Pertanyaannya kemudian adalah “Bagaimana tingkat inovasi teknologi Indonesia? Apakah Indonesia memiliki inovasi teknologi yang sudah matang?” Jika kita lihat The Innovation Global Index 2013, Indonesia menempati peringkat 85 dari 142 negara, jauh di bawah Singapura (peringkat 8), Malaysia (32), Thailand (57) dan Vietnam yang berada di posisi 76. Bahkan peringkat Indonesia turun dari 72 pada 2009 menjadi 85 pada 2014. Ironis!

Tantangan Inovasi di Indonesia

Kemenristek menyatakan bahwa yang menjadi masalah utama bagi inovasi di Indonesia adalah sedikitnya jumlah penelitian yang dikembangkan menjadi produk komersial. Padahal, The World Bank menyatakan bahwa teknologi maupun produk penelitian yang tidak didiseminasi atau disebar menjadi sebuah produk komersial bukanlah suatu inovasi. Lalu, bagaimana kita menjawab permasalahan ini?

Untuk menciptakan sebuah iklim inovasi yang mantap dan mendukung terjadinya diseminasi penelitian menjadi produk komersial, tentu saja dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Setidaknya, ada tiga pihak yang berperan penting dalam melaksanakan proyek ini, yaitu perguruan tinggi atau lembaga penelitian, sektor privat, serta pemerintah. Kerjasama terintegrasi inilah yang belum dilakukan secara optimal di Indonesia.

Dalam praktiknya, pihak perguruan tinggi atau lembaga penelitian seyogyanya melakukan penelitiannya dengan berorientasi kepada kebutuhan pasar agar hasil penelitian tidak terbengkalai menjadi suhuf-suhuf dan rongsokan tua di perpustakaan ataupun di laboratorium. Belajar dari Swedia sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia (peringkat 2 di index), penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi selalu dikolaborasikan dengan permintaan di dunia industri. Hal ini dilakukan dengan cara melibatkan para profesional atau pelaku industri di dalam laboratorium penelitian mereka. Orang-orang ini memiliki peran yang sama pentingnya dengan para peneliti di dalam laboratorium. Mereka menguji apakah penelitian yang dilakukan memenuhi kemauan pasar dan memungkinkan untuk diproduksi secara massal. Dengan cara ini, pihak universitas juga dapat menjamin keberlangsungan pendanaan untuk penelitian mereka.

Kemudian, industri sebagai pilar kedua memiliki peran yang penting dalam menggunakan hasil penelitian dari universitas. Microsoft, misalnya, setiap tahunnya mengadakan kompetisi inovasi teknologi untuk para mahasiswa dengan memanfaatkan produk perusahaan. Hasilnya sangat memuaskan! 1.7 juta mahasiswa di seluruh dunia memproduksi ratusan ribu teknologi yang memberikan manfaat untuk dunia.

Terakhir, pemerintah sebagai pilar ketiga perlu memainkan peran yang menstimulasi iklim inovasi. Secara teknis, pihak pemerintah perlu membentuk lembaga intermediasi yang mengatur hubungan antara perguruan tinggi atau lembaga penelitian dengan dunia industri. Hubungan ini dapat menciptakan kesesuaian dan regulasi yang jelas yang menjembatani adaptasi dan diseminasi hasil-hasil penelitian oleh dunia industri. Kedua, memberikan insentif yang sesuai bagi para peneliti untuk mengembangkan penelitiannya menjadi sebuah produk inovasi. Ketiga, membuat political will yang didukung oleh semua lembaga dan instansi dari pemerintah pusat hingga daerah. Ketiga peran inilah yang belum dimainkan oleh pemerintahan SBY, sehingga langkah-langkah ini menjadi PR besar bagi kabinet selanjutnya.

Dari paparan di atas, jelas bahwa inovasi teknologi memainkan peran yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa. Baik pihak universitas, sektor privat, maupun pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim yang inovatif. Kerjasama ini tentu tidak mudah, tetapi dengan kesadaran dan upaya dialog yang intensif, kita berharap tantangan inovasi di Indonesia dapat segera terjawab.

Daftar Acuan

Cornell University. (2013). The Global Innovation Index 2013: The Local Dynamics of Innovation. Geneva: World Intellectual Property Organization; Confederation of Indian Industry

Craft (1987). “The Industrial Revolution:  Economic Growth in Britain, 1700-1860” http://www.ehs.org.uk/dotAsset/15457c19-e7bd-4045-a056-30a3efac2d47.pdf, hal 1-4

Holm, D. S. (2011). “Innovation Lecture”.Seminar. RITECH Expo, 10 Agustus

INSEAD. (2010). Global Innovation Index 2009-10. Confederation of Indian Industry.

The World Bank. (2010). Innovation Policy: a guide for Developing Countries. Washington DC: The World Bank.

Wong. (2005). “Entrepreneurship, Innovation and Economic Growth: Evidence from GEM data” dalam Small Business Economics, hal 335-350.

*) Dimuat dalam buku kumpulan esai Young Leaders for Indonesia (YLI)

Perkara Jodoh #2

Beberapa bulan lalu saya pernah post tulisan tentang perkara jodoh juga. Dalam tulisan itu, saya berkata bahwa tekanan sosial itu memang harus disikapi secara dewasa. Nah, ada satu hal lagi nih yang ingin saya share. Pengalaman orang tentu berbeda, tapi setidaknya tulisan ini bisa memberi sedikit pelajaran buat gadis dan bujang yang mikir bahwa pernikahan itu memang selalu indah. Apakah demikian?

Bermula dari pengamatan pada orangtua saya ketika saya masih gadis, saya seringkali mendapati keduanya bertengkar kecil di depan anak-anak. Kadang sehari bisa jadi banyak kasus. Saya dan adik-adik saya berpikir, rasanya nyaris tidak pernah melihat ayah saya berlaku romantis pada ibu saya di depan anak-anak. Perasaan kok ya beda terus.

“Udah tuir ah, malu keles” Yah mungkin begitulah alasannya. Tapi suatu hari, saya pernah meminjam hp ibu saya dan ga sengaja membuka pesan masuk. Isinya deretan puisi dari ayah saya. Aiiih…sesuatu. Pernah juga suatu hari ayah saya diam-diam memuji ibu saya di depan anak-anak tanpa ada ibu saya, “Contoh tuh ummi, ama saudara-saudaranya tuh bener-bener care. Orangnya ngasih melulu. Ini nurun ke anak mana sih?” Padahal, kalau di depan ibu saya, ayah saya suka berkata, “Boros amat”, yang menurut ibu saya masih dalam tataran proporsional. Gu to the brak!

Dan, saat saya pun berumah tangga, apa yang sering saya lihat pada orangtua saya pun baru dimengerti setelah saya menjalaninya. Ternyata apa yang saya lihat baru secuil dari tangga-tangga yang dibangun oleh pasangan suami istri di dalam rumah. Saya bisa melihat polanya setelah setahun membersamai suami saya. Pada kenyataannya, marriage is also about compromizing! Yeah!

Dua bulan pertama memang semuanya terasa indah, yah masih masa-masa bulan madu lah. Dan saya dan suami saya mungkin masih srada-srada jaim. Apalagi kami tidak mengawali masa pernikahan dengan pacaran, hehe. Tapi lumayan juga, berteman cukup lama membuat saya dan suami saya sudah cukup tahu jelek-jelek dan bagus-bagusnya dimana ajah. Jiaaah. Tapi menjelang bulan keempat, ternyata apa yang kami lihat dulu atau malah kami asumsikan ada saja yang salah. Tapi pada fase ini, tentu gerutuan-gerutuan masih disimpan saja di dalam hati. Kok begini yah, kok begitu yah. Indah dan bingung memang ada masanya, haha.

Setelah setahun berjalan, saya pun menyadari bahwa tidak selamanya hidup berjalan seperti kisah-kisah Cinderella. Jangan pernah berharap bahwa masing-masing kita, lelaki dan perempuan, akan mendapatkan 100% fokus dan perhatian ketika berumah tangga, 100% terpenuhinya keinginan, 100% puji-pujian, atau 100% terlaksananya rencana. Yah, perbedaan memang kadang menyulut konflik-konflik kecil, mulai dari kapan puasa dimulai, uang dipake buat apaan, kenapa kursi harus diletakkan di posisi depan, kenapa ga beli X dulu baru Y, mau punya anak berapa, tabungan sekian persen ga boleh diambil, harus banget yah milih A daripada B, kenapa gak nanya orang ajah daripada ngandelin google maps, kenapa pegang gadget melulu, Apa sih yang lucu???, kenapa sih ga bantuin daritadi, kenapa kelamaan dandan, boleh gak istri kerja atau pulang jam sekian-sekian, kalau mertua dateng enaknya dikasih apa ya. Kalau beda gitu, bisa sebel melulu bawaannya, haha.

Hal yang paling sering buat cekcok itu biasanya manajemen keuangan dan kalau kami lagi nyasar-nyasar di jalan walaupun suami udah berusaha ngandelin gadgetnya #jreng. Setelah kami jalani, tampaknya pelajaran financial planning, sex education, dan interaksi dengan keluarga besar dan tetangga di seminar-seminar pernikahan jarang disinggung atau kurang dieksplor ya, padahal itu amat sangat penting lo Guys. Belajar dari pengalaman, sering-seringlah bertanya pada orangtua tentang apa saja yang harus diantisipasi. Kalau malu sama mereka, yah tanya saja kawan yang sudah berpengalaman.

Misalnya, dalam soal keuangan. Harus dari awal disepakati ATM suami dipegang istri atau bagaimana, belanja bulanan dijatah berapa, biaya tak terduga itu juga dijatah berapa, tabungan mau dideposito, atau diinvestasi dalam bentuk apa, dipakai buat apa saja, gaji istri gak boleh diganggu atau gimana, kalau ada bonus kantor mau dikemanain yah enaknya, bikin rekening berapa banyak dan buat apa ajah, ada asuransi gak yah, dan sebagainya dan sebagainya. Karena usut punya usut, saya sering mendengar bahwa perceraian timbul karena urusan ekonomi. Nauzubillah.

Begitu juga pengetahuan kita tentang sex. Banyak pasangan yang ragu-ragu memeriksakan diri ke dokter saat lama tidak dikaruniai anak. Kadang kita mikir ada masalah di ceweknya doank, padahal bisa jadi ada masalah juga sama cowoknya. Bisa saja soal infertilitas, bentuk atau pergerakan sperma yang tidak sesuai, kista dalam rahim, dan lain sebagainya. Konsultasikan ke Ginekolog (dokter kandungan), atau androlog (khusus cowok), dan sering-seringlah memanfaatkan internet atau buku-buku terkait agar dapat pemahaman yang tidak setengah-setengah. Maklum, di Indonesia suka banyak mitos orangtua yang aneh-aneh, hehe. Masalah punya anak atau nggak juga bisa jadi buat cekcok suami istri, jadi jangan ragu belajar dari yang sudah berpengalaman.

Yah, banyak hal yang perlu dikompromikan. Saya pernah bertanya pada murobbiah saya berapa lama baru bisa menerima paket full suaminya. Dia bilang 8 tahun. Et dah lama bat. Bahkan mertua saya pun bilangnya 5 tahun baru bisa nerima senerima-nerimanya. Orangtua saya juga butuh bertahun-tahun untuk bisa menerima full paket pasangannya, hehe. Pesan dari mereka, jangan pernah bawa tidur masalah, selesaikanlah sebelum matahari menyembul kembali dari peraduan. Apalagi saya menemukan pola bahwa perempuan itu lebih emosional daripada lelaki, dan lelaki lebih gak mau terbuka sama perempuan kecuali penting dan harus tahu. Perempuan lebih senang belanja (yang menurut mereka penting), sementara lelaki lebih demen nabung dan kebutuhan harus disesuaikan dengan prioritas. Default. Hehe. Kalau gak bisa menyikapi perbedaan dengan iman, setan itu gampang banget membisikkan keburukan-keburukan yang bisa buat pasutri cekcok melulu. Nauzubillah.

However, despite berpedaan yang menyulut konflik-konflik kecil, tak bisa dimungkiri bahwa ada saja yang membuat kami ketawa karena ternyata kami sekufu #eaa. Buat suami saya, mudik ke Serang bukan barang baru, karena hampir tiap lebaran dia dan keluarga silaturahim ke Serang, secara ada sepupu ayahnya yang tinggal di Serang, dan ternyata beliau menikah dengan saudara saya juga. Menjelang pernikahan dan setelah kami menikah pun, ternyata saya tahu bahwa ada 3 saudara saya yang menikah dengan anggota keluarga besar suami saya. Yaaah, jadi muter di situ-situ ajah yak. Nyari jodoh jauh-jauh kok dapetnya deket amat, haha. Alhasil tidak sulit bagi saya dan keluarga saya untuk menyesuaikan diri.

Dari karakter, dari kekoplakan-kekoplakan, dari irisan teman, dari visi-misi, selalu bisa kami temukan kesamaan. Jadi Guys, kalau lagi sebel, ingat aja baik-baik dan sama-samanya dimana, plus selesaikan juga dengan kepala dingin. Kalau ga bisa juga, harus ada mediator yang dipercaya agar semua senantiasa berjalan harmonis. Rumah tangga itu memang complicated, tapi kedewasaanlah yang membuatnya jadi sederhana. Saya dan suami pun masih terus belajar untuk menjaga keharmonisan ini, apalagi 3 bulan lagi si baby lahir. Wow..wow…ada kejutan apalagi yah nanti? Kita tunggu saja.

Wallahu’alam.

 

Piala Dunia \^^/

Lagi nyapa via WA ama suami di Papua. Di sana beda 2 jam lebih cepet.

Gue: abang…
Suami: kok udah bangun jam segini?
Gue: sengaja, mw nonton final, wkwk. Tp yg laen blm bangun.
Suami: niat amat, jangan lupa QL yak
Gue: ya emang mw QL jg hhe
Suami: sip sip…
Gue: kamu dah berangkat? (ceritanya mw ke bandara buat pulang)
Suami: ambil flight 2 jam 9.30, nonton final dulu haha
Gue: (sama aja -,-) dukung apa?
Suami: netral 8)
Gue: aku Argentina, tapi feelingku Jerman yg menang wkwk
Suami: yah Jerman jago maen, Argentina nyerang dikit2 tp efektif. Kmu dukung Argentina karena ada yg ganteng ya? :>
Gue: apa? Messi? Wkwk. (Dalam hati, tahu aja). Padahal dulu ngefans ma Klose. Wkwk. Jumlah goalnya udah ngalahin Ronaldo nih :O
Suami: :l

Hai, Kecil….

Hari-hari menjadi berarti setelah kehadiran si kecil dalam rahimku. Setiap gerakannya dalam perutku menyadarkanku bahwa aku memiliki kehidupan lain yang harus kujaga. Sebuah amanah yang besar, yang dengannya kebahagiaan dan segala ujian menanti. Tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tetapi aku dan suamiku selalu berdoa untuk kebaikan lelaki kecilku….

Ia pasti akan melalui masa-masa seperti kami. Jatuh bangun demi bisa belajar berdiri, merengek-rengek minta ASI, mengucapkan kata-kata dengan vocal tract yang belum matang, menginjak masa remaja yang penuh dengan tantangan, dan tumbuh dewasa dengan segala kebijaksanaan. Dalam bayanganku, kelak ia akan menjadi orang besar, seorang penghafal al-Qur’an, juara 1 di sekolah, pekerja keras, dan seseorang yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap masalah umat.

Ia lelaki, lelaki kecilku. Yang kunanti-nanti kehadirannya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa senang mengalir di dalam darahku terkadang, tetapi rasa khawatir tentu juga tak bisa aku tepis. Kadang pertanyaan demi pertanyaan, seperti “Mampukah aku jadi seorang ibu?”, “Bagaimana mengasuh anak pertama itu?” terus bergelayut. Pernah sekelebat merasa tak siap, tapi setiap kali ayah si kecil membawaku ke dokter kandungan, melihat USG selalu menjadi momen yang dinanti. Bahagia yang tidak terkira. Apalagi, jika bentuk si janin sudah terlihat seperti bayi manusia. Oh begini yah rasanya jadi orangtua…

Ah, aku sungguh tak tahan menulis ini, Nak. Katanya ibu hamil tak boleh menangis sedih. Tapi izinkan aku mengeluarkan air mata bahagia sebentar saja. Terimakasih sudah menemani hari-hari bunda di Ramadhan yang penuh berkah ini. Sebisa mungkin bunda puasa biar kau ikut rajin juga. Terimakasih sudah menjadi the best booster yang membuat bunda bisa menyelesaikan studi S2 dengan predikat cum laude. Untukmu yang darahnya menyatu dengan kulitku, darahnya mengalir di darahku, jantungnya berdenyut menyatu dengan nyawaku, aku akan berkorban apapun untukmu.

Hai kecil, semoga kau jadi anak yang cerdas dan shaleh, Bunda dan ayah sayang sama Adek. 3 bulanan lagi adek lahir lo. Adek yang sehat yah, terus sehat dan sehat terus….. :’)

June 26, 2014

When I firstly met you, I never imagined that you’d be someone who said something unbelievable. The words that later would change my life, the words that would make every woman in this world happy, the words that seemed short but deep.

Two years ago I forgot your important day, ya, while you thoroughly prepared everything for my precious day, ever. I turned into 23 at that time, and got an email that’s pretty shocking. You convinced me that you can be the one and only. You, with your strengths and weaknesses. You, with your future plan and responsibility. You, with smile and tears and determination to chase your dreams. You, with your belief and hope.

I value my marriage with you, so incredibly thankful to God for sending you to me as a gift. Nothing says ‘home’ like the arm of yours. Happy b-day babe…

When the Marriage Proposal was Coming….

Sedang iseng membuka blog di wordpress karena sudah 4 bulan gak ngisi2. Sibuk nesis dan akhirnya kelar juga, hehe. Tetiba tergelitik dengan tulisan lama. Dulu saya amazed kenapa setelah saya menulis ini. 1 jam kemudian ada telepon dari seseorang yang akhirnya membersamai hidup saya. Saya selalu yakin bahwa ketika kita sungguh-sungguh menyiapkan dengan hati yang tulus, doa kita akan dikabulkan. Waktu itu, saya menulis tulisan ini ketika sedang berpikir tentang masa depan. Lucu juga.

Januari 2013

Saya terpaku. Memandang satu sisi dinding di kamar kosan saya. Dua karton berwarna merah darah dan merah jambu. Yang merah darah bertuliskan kata-kata penyemangat sejak saya memilih untuk kuliah kembali. Ayat-ayat Qur’an, hadits, perkataan ulama, hingga ungkapan-ungkapan bahasa Inggris. Sedangkan karton merah jambu berisikan empat cita-cita yang saya tulis pada tahun 2008, tetapi selama tiga tahun saya taruh di gudang karena cita-cita saya sempat berubah semasa kuliah S1. Isinya adalah: masuk surga, jadi dosen, penulis, dan pengusaha. Baru pada 2012 saya pasang lagi, butuh kelapangan hati untuk (pada akhirnya) meredam cita-cita bekerja di stasiun TV atau media cetak. Saya kembali pada cita-cita semula, menjadi akademisi, penulis, dan pengusaha. Hehe. Maka kertas karton itu saya cari, tertumpuk di antara kertas-kertas yang berdebu, lalu saya pasang lagi. Dan jalan menuju ke sana semakin Allah mudahkan.

Lalu saya beralih ke sisi dinding yang lain. Ada kertas bertuliskan career path sejak saya selesai sidang skripsi, hingga saat ini. Di samping kertas itu ada foto keluarga. Tujuh tahun yang lalu, dan yang terbaru, saat lebaran. Posisi itu membuat saya harus selalu bersemangat. Karena ada orang-orang terkasih yang harus saya bahagiakan. Di tengah-tengahnya, satu tulisan besar mengingatkan diri saya yang lalai ini, “Jaga Qiyamullail”, serta sederet daftar ibadah yaumiyah dan foto satu grup ‘lingkaran’ saya yang sudah terpecah belah, selalu membuat saya ingin menangis saja. “Kita sudah tak bersama-sama lagi seperti dulu. Masing-masing memilih jalan yang berbeda”.

Saya beralih ke dinding yang ketiga, daftar pekerjaan saya, mengajar ini dan itu, proyek ini dan itu, kegiatan begini dan begitu. Satu kehidupan baru yang belum pernah saya jalani. Orang-orang baru yang saya jumpai. Situasi yang kadang membuat saya harus lebih banyak bersabar karena dunia, ternyata bukan hanya milik saya. Sejak itulah saya tahu, bahwa menjadi realistis itu penting, hahahaha.

Tunggu, ada satu dinding lagi, di antara tiga sisi yang sudah terisi penuh dengan alur hidup. Masih kosong melompong. Serta merta dada saya bergemuruh, kepala saya agak berat, karena ada gambaran peristiwa ketika Allah hendak mengangkat gunung Thursina ke atas Bani Israil. Ada bayangan perjanjian antara Allah dan Rasul. Al-Qur’an menyebut peristiwa ini dengan frase “miitsaqan Ghaliizhaa”, atau perjanjian yang berat. Dan, yang lebih mengejutkannya lagi, frase ini dipakai juga dalam sebuah ayat yang pasti akan menampar-nampar diri saya, menggelagakkan semangat saya, sekaligus membuat saya bergemetar karena kehidupan yang benar-benar baru. Kehidupan yang melahirkan tanggung jawab yang sesungguhnya. Karena dalam pada itu, akan ada Allah, di antara saya dan seseorang yang kelak akan berjanji, “kupanggulkan bukit Thursina ke pundakmu seumur hidup”. Satu dinding kosong ini membuat saya begitu takut. Saya menepuk kening, ya Tuhan, saya belum menyiapkan apa-apa untuk itu (*)