Cute :’)
Cute :’)
Salam terindah untuk cinta. Ketika tak ada perasaan yang mampu merekam cerita, biarkan puisi merapikannya. Teruntuk mereka yang sedang merayakan luka. Saya persembahkan buku kumpulan tulisan dari luka dan bahagia. Sebuah Produk dari Komunitas @langitsastra berjudul “Festival”, bisa teman-teman dapatkan Harga Rp.60.000, paket khusus Jakarta bebas ongkir. Pre Order: mention @alfisyahriyani atau kirim nama_nomor hp_alamat lengkap ke festivalkita@gmail.com tunggu balasan lebih lanjut. Senang sekali bila teman-teman sekalian mau ikut dalam “Festival”. Terima Kasih
Sebuah Produk dari Komunitas @langitsastra
Harga Rp.60.000 (gratis ongkir untuk wilayah Jabodetabek)
Pre Order: mention @alfisyahriyani atau kirim nama_nomor hp_alamat lengkap ke festivalkita@gmail.com tunggu balasan lebih lanjut :D
Baiklah, minggu lalu gue udah share sedikit kan tentang isi seminar pra nikah di Smesco tanggal 14 April bulan lalu. Di tulisan sebelumnya, gue udah bahas apa aja yang disampaikan oleh Bang Shofwan dan Salim A Fillah (baca share seminar #1). Sekarang, gue bakal share apa yang gue dapet dari Ustad Bachtiar dan Mbak Asma Nadia, tentang bagaimana memilih pasangan hidup dan bagaimana persiapan yang baik itu. Cuman maaf ye udah lama banget nih jadi srada-srada lupa. Oh yah, gue juga lupa tuh ada beberapa hal yang terlewat yang disampaikan oleh Ustad Salim. Simak dulu yuk.
Jadi, Ustad Salim bilang bahwa rumah tangga yang sehat adalah yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Nah, kita kan sering dengar ini, tapi gak tahu lagi maksudnya apaan. Pertama, sakinah berarti membangun ikatan, merasakan kecenderungan kepadanya, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan merasakan ketentraman saat berpisah dan bertemu dengannya. Kedua yaitu mawaddah, cinta yang romantis dan erotis. Ketiga, rahmah atau kasih sayang. Diperlukan ikhtiar untuk mewujudkan itu semua. Formulanya, kata Ustad Salim: ILMU, AMAL, dan KOMITMEN. Menikah berarti komitmen untuk mengamalkan ilmu :)
Setelah Ustad Salim, lanjut ke Ustad Bachtiar dan Mbak Asma Nadia.
Di seminar ini, Ustad Bachtiar lebih banyak bicara tentang bagaimana proses menuju pernikahan yang baik. Beliau bilang bahwa menikah itu berarti membangun cinta. Nah, sering gak, kita dengar, “Hah, gimana bisa nikah kagak ada perasaan?” (bahasa sekarangnya mah chemistry, hehe). Nah, chemistry ini sebetulnya bisa banget dibangun saat keduanya udah klik lo.
Pernah liat gak, orang pacaran lama-lama ujung-ujungnya gak jadi? Ada teman gue, 6 tahun pacaran dari SMA, tahu-tahu broke up, bahkan temannya teman kantor gue, pacaran 9 tahun, tahu-tahu pas malam pertama cowoknya masokis ampe si cewek koma -_-‘, ada lagi yang udah 7 tahun, putus gara-gara beda visi, jiaah jadi kemarin-kemarin kagak ada visi apa ya? dan lain sebagainya. Ada yang HTS-an tahu-tahu gak jelas, akhirnya udahan aja. Lebih ngenes lagi kalau dijanjiin nikah tapi gak jadi. Jiaaaah.
Nah, banyak teman gue yang mulai membangun cintanya dari awal ta’aruf tanpa perasaan tapi fine-fine aja, contohnya adalah Johan dan Naya yang baru nikah kemarin, haha (walaupun gak bisa dinafikan ada aja kasus-kasus aneh kayak di cerita Akhyar yang fragmen-fragmen itu.LOL). Dosen ‘budaya’ gue bahkan cerita waktu lagi ngasih mata kuliah tentang perilaku, budaya, dan adat dalam pernikahan. Jadi katanya, kalaupun pacaran lama-lama terus nikah, katanya tetep aja nikah mah beda, masalahnya beda, yang diadepin beda, ada hal-hal yang kita tadinya gak tahu jadi tahu, bahkan butuh penyesuaian bertahun-tahun untuk mengakui kekurangan masing-masing (padahal udah lama pacarannya). (Baca tulisan gue ‘Tentang Pernikahan’ arsip Januari)
Terus gue mikir kan, apa bedanya ya pacaran ama gak pacaran ya? Hehe. Nah, sekarang, kata Ustad Bachtiar, pilih, mana nih yang lebih berkah? Hehehe. Mana yang buat Allah kagak cemburu sama kita? J Pacaran, kagak pacaran, atau HTS-an? (kenapa bahasa(n) gue jadi kayak anak SMA yang baru masuk Rohis gini yak, hahaha). Karena, kalaupun benih-benih itu mulai tumbuh dan kita akhirnya memiliki kecenderungan pada seseorang, cara terbaik yaitu doa, doa, dan doa. Kalau kata Mbah Sudjewo Tedjo, puncak kerinduan itu, saat dua insan gak sms-an, gak teleponan, tapi dua-duanya diam-diam saling mendoakan. Ciee. Jadi poinnya adalah, mantapkan harapan pada Tuhan, dan putuskan harapan pada manusia, that’s the key! :D. InsyaAllah semua akan terjawab pada waktunya.
Memang jadi lebih bisa menyesuaikan diri sih kalau dua-duanya udah sama-sama tahu, hanya saja, jangan sampai terjadi hal-hal yang bisa mengurangi keberkahan prosesnya. Gue jadi inget kata-kata Mbak Asma Nadia, “jangan menikah hanya karena kita jatuh cinta, tapi menikahlah karena ingin “membangun” surga”. Yup! Sama-sama belajar.
Tapi jangan juga nyemplung kalau gak ada melampung, artinya menikah juga butuh persiapan yang matang, baik dari segi fisik, mental, materil, dan sebagainya. Belum mampu ya puasa dulu ye sembarian nyiapin, hehehe. Sayangnya, di seminar kemarin itu terlalu umum bahasannya. Dengar-dengar tanggal 19 Mei besok ada seminar juga di RISKA Menteng, lebih komprehensif materinya karena menyinggung soal kesehatan reproduksi, financial planning, dll. Heems, sayangnya gue lagi banyak paper, haha. Yak, silahkan datang, dan bagi-bagi ilmunya aja :D
Oya, soal pilih memilih pasangan, kata Ustad Bachtiar, ingat aja hadits dari Abu Hurairah mengapa seorang wanita dinikahi, karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, atau agamanya. Hendaklah kita memilih yang baik agamanya agar beruntung. Redaksionalnya lupa euy, hehe
:) So, jangan milih pasangan cuma karena keren bisa maen gitar, atau jago buat puisi, tapi pas ke rumah disuruh jadi imam shalat ama bokap kagak bisa, wkwkwk, atau ngajarin anak akhlaq yang baik fail :(. Gue ngerasa ayah-ibu gue keren banget pas gue kecil ngedidiknya. Kerasa banget pendidikannya ampe sekarang, walaupun kadang gue belak-belok labrak sana sini. tapi akan ada masanya, kalau nilai keluarga udah ketanem, pasti mikir lagi bahwa gak ada tempat yang paling nyaman selain rumah :)
Nah, klo Mbak Asma Nadya sih lebih banyak menyinggung bagaimana masing-masing pihak saling memahami kelebihan dan kekuarangan. Kalau ditulis lagi, panjang pisan yah, kapan-kapan deh ya. .And the point is, memang semua tak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Allah ‘azza wa jala. Saling memahami kelebihan dan kekuarangan masing-masing, lalu ingat-ingat mengapa kita memilih si A dulu, dan mau dibawa ke mana rumah tangga, harus benar-benar dipahami kalau ingin langgeng dan berkah. Bagaimanapun, menikah berarti melahirkan generasi, bukan sekadar jalan berdua, makan berdua, dan tidur berdua. Ada gol besar yang harus dicapai, membangun masa depan umat. Nah, keluarga adalah fondasi utama, dan dari sanalah kemenangan Islam bermula.
Wallahu’alam.
Ada kerinduan yang lewat dari setiap tetes air mata dalam keheningan malam,
mengalir meliuk mengikuti gurat wajah yang tersungkur di atas tempat sujud,
melambat kemudian berubah menjadi bulir tetesan yang membekas, meresap,
teringat jauh dan lama lalai memeluk waktu,
terusik resah dan tanya…
Jleb juga yah Jay :|
“Iman itu tidak sekali jadi dan titik. Iman membutuhkan penyelamatan setiap saatnya.”
:’)
Kita adalah dua bayangan yang saling memunggungi
Menanti-nanti waktu yang makin hari makin retas
Kau dan aku tergugu seperti ranting kering yang dilumat musim
Sesekali ada suara-suara yang fana
Berbisik, bening tak tertangkap serupa kaca
Serupa lampion-lampion yang kau gantung,
di antara tiang-tiang jalan yang terjaga
Ada dua bayangan yang saling melerai, melawan, menuduh
Dadamu gemuruh, seperti kolam-kolam ikan yang kau tindih dengan batu
Adakah kau mau memaafkan waktu?